Langsung ke konten utama

9 September 2011 | Pakai Toga

"Rasanya waktu pake toga itu, kaya lagi di surga dunia itu nah..." | Kebayang banget rasanya itu, Del... Saya juga pengen. Harus!

Saya juga pernah ngerasain pakai toga, walau cuma di depan cermin, dan hanya beberapa menit saja. Waktu itu, saya nampak keren banget. Terbayang foto pakai toga nanti ditaruh di dalam pigura dan ditempatkan di atas foto lulusan SMP saya yang berkebaya dan konde besar itu. Ya, foto lulusan SMP. Yang SMA? Saya sama sekali nggak ingat kapan tepatnya saya lulus SMA, serta bagaimana proses penerimaan ijasah yang diserahkan oleh kepala sekolah SMUN 8 Malang di atas panggung di dalam gedung yang saya juga lupa namanya itu. Waktu itu, semua teman hadir bersama ayah atau ibunya. Sementara saya, dengan kebaya dan konde itu, datang sendirian, naik ojek. Mungkin itu sebabnya kenapa seolah-olah momen yang, bagi kebanyakan siswa sangat berharga itu, jadi skip dalam hidup saya.

Begitu pula dengan momen pakai toga di dalam sebuah ruangan di Hotel Gajah Mada Graha pada bulan-bulan akhir di tahun 2003. Saya benar-benar ingin ingatan tentang momen tersebut masuk recycle bin dalam memori otak saya, dan sesudahnya recycle bin itu dibuat jadi empty. Saya benar-benar semakin membenci cerita perjalanan hidup, saya saat cita-cita untuk pakai toga itu dikandaskan oleh materi. Benar-benar pedih rasanya, sementara kawan kampus saya yang berasal dari daerah, menumpang tidur di rumah saya pada malam sebelum acara wisuda. Pagi subuh saya mengantar dia sampai depan gang, dan dia pergi ke salon untuk merias diri secantik mungkin agar momen pakai toga-nya semakin sempurna. Sementara saya, berjalan kaki kembali ke rumah, mengurung diri dalam kamar, dan menangis sejadi-jadinya.

Dear Mama, maaf kalau kakak sempat marah karena mama nggak mau meminjamkan sedikit dari uang mama untuk melunasi administrasi sebagai syarat mengukuti ujuan akhir semester kakak. Kakak nggak dendam, hanya nggak bisa lupa, nggak akan bisa lupa. Tapi kakak tetap sayang mama, walau mama nggak pernah ada di dekat kakak hingga 27 tahun ini.

Dear Adelina Dina, selamat ya sudah sukses pakai toga! Doakan saya segera bisa menyusul ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

365 Hari Bersama Superteam Knightwriters

Rasanya seperti baru kemarin saya duduk di hadapan Mbak Rita dengan setelan baju kantor yang super formal. Rasanya seperti baru kemarin juga Mbak Rita telepon malam-malam dan meminta saya masuk kerja keesokan harinya. Hari ini, setahun sudah saya menginjakkan kaki untuk yang pertama kalinya di kantor KLC. Hari ini, setahun sudah saya menghidupi dan menghidupkan hidup di sini. Sebagian besar waktu dan pikiran saya adalah KLC. Syukur yang tak berkesudahan, masih sama seperti syukur yang sempat saya torehkan di dinding kamar saya, setahun yang lalu. "Terima kasih Tuhan, saya bekerja di KLC!" Pada kesempatan ini, rasa terima kasih saya yang tak terhingga, pertama saya tujukan pada Fajar McXoem dan Mbak Aik Nengbiker. Kalau bukan karena mereka berdua, mungkin saya tidak duduk di kursi ruang editor yang sangat nyaman itu. Kemudian baru pada Mbak Rita yang sudah memutuskan untuk menerima saya dalam tim-nya. Senang rasanya punya tim yang sangat solid dan selalu berusaha bekerja denga...

Kisah Planet Trigala dan Canava Satibis

Digambar oleh Diedra Cavina , diwarnai oleh saya ^^ Tersebutlah sebuah planet di mana di sana hanya ada enam jam dalam sehari, tiga hari dalam seminggu, tiga minggu dalam sebulan, dan sembilan bulan dalam setahun. Planet tersebut bernama planet Trigala . Planet yang memiliki tiga danau, sembilan sungai, dan satu laut ini mempunyai tiga musim. Terjadi di sana, tiga bulan musim hujan , tiga bulan musim semi , dan tiga bulan sisanya adalah musim melayang . Di kala musim hujan, makhluk-makhluk di planet Trigala ini menikmati liburan. Musim ini adalah pusing paling santai dalam hidup mereka, di mana mereka bisa menikmati segala persedian, dan berkumpul bersama keluarga. Jika tiba musim semi, makhluk Trigala mulai bercocok tanam. Di musim semi ini terkadang ada juga hujan, namun hanya beberapa kali saja dalam sebulan. Musim semi ini digunakan untuk bekerja di kebun. Dan, pada musim melayang, segala pekerjaan sudah terselesaikan. Hasil dari bercocok tanam sudah siap dipanen. Hasil panen dar...

Ada yang Harus Dikorbankan dalam Tiap Pilihan, Goodbye (Again) KapanLagi Youniverse

Memutuskan untuk resign di tengah semangat yang masih super membara untuk bekerja, rasanya sedih. Sangat sedih. Namun kesedihan itu setara besarnya dengan keinginan untuk bisa punya anak. Dan kegalauan yang berkecamuk di dada ini sungguh bikin sesak, meski keputusan sudah diambil. Ya, jika ingin proses kehamilan ini atau yang selanjutnya nanti lancar, saya diwajibkan untuk bedrest. Totally bedrest. Tak ada tawar-menawar untuk hal ini. Pilihannya hanya dua: tetap bekerja dan akan terulang lagi kehilangan-kehilangan lain, atau fokus mempersiapkan diri untuk punya anak. Bukan tanpa alasan saya masih punya keinginan untuk bisa bekerja seperti biasa. Saya adalah tulang punggung keluarga bapak dan nenek. Satu-satunya yang bisa berdiri paling tegak saat harus menopang apapun di rumah. Saya juga masih ingin bisa membantu sekolah adik sampai kelar. Namun... Mama mertua saya bilang, materi bisa dicari dengan berbagai cara selain harus ngantor setiap hari. Akan ada nanti rezeki da...